A.  Jumlah Buku dalam Alkitab.

Di atas telah kita sebutkan adanya Kitab Suci Perjanjian Lama terjemahan Yunani yang  dalam bahasa Latin disebut “Septuaginta” dan  dalam bahasa Yunani “Ebdomikonta” ( Septa- Dasa = Tujuh Puluh), dan Kitab asli Ibrani dalam Naskah Masoret.  Mengerti adanya dua Naskah : Asli Ibrani dan terjemahan Yunani ini sangat penting  untuk menghilangkan kesimpang siuran pengertian mengenai perbedaan jumlah kanon Perjanjian Lama dalam Gereja Gereja Purba ( Katolik Roma Barat, dan Orthodox Timur) dan Gereja-Gereja yang muncul sesudah Gerakan Reformasi Protestan dari Gereja Barat : Roma Katolik ( Protestan Klasik/ Protestan sayap kanan: GKJ, GKI,GPIB,GKJW,HKBP dll; serta Protentan Radikal / Protestan Sayap kiri: Baptis, Evangelikal / Injili, Menonit, Pantekosta, Bethel, Gerekan Kharismatik, dan lain-lain.)

Kitab Suci Yahudi yang disebut Tanakh yang berasal dari kependekan  “Torah” = Taurat ( T A ), “Nebiim” = Para Nabi ( NA), “Ketubim” = Kitab-Kitab, Tulisan-Tulisan (KH), meskipun jumlah isinya sama dengan Kitab Suci Perjanjian Lama yang digunakan Gereja-Gereja Protestan, namun mempunyai cara perhitungan dan cara urutan yang berbeda.  Dalam Gereja-Gereja Protestan Kitab Suci Perjanjian Lama itu dihitung sebagai 39 buah Kitab, biasanya dihitung dari Kitab Kejadian sampai dengan Kitab Maleakhi.  Namun dalam Agama Yahudi jumlah yang sama itu dihitung sebagai 24 bau Kitab, dari kitab Kejadian sampai dengan II Tawarikh. Dan Yesuspun juga mengikuti cara perhitungan Yahudi ini, ketika mengatakan:”... mulai dari Habil...sampai kepada Zakharia anak Berekhnya..... ( Matius 23:35).  Kisah Habil berasal dari Kejadian  4, sedangkan kisah Zakaria anak Berkhya berasal dari II Tawarikh 24:20-21.  Juga pembagian Tanakh menjadi tiga bagian : Torah, Nebiim, dan Ketubim itupun diikuti oleh Yesus ( Lukas 24:44).  Dan Perhitungan Tanakh sebagai 24 Kitab itu sebagai berikut:

Torah:

1. Bereshit ( Kejadian), 2.  Shemot (Keluaran), 3. Wayiqra (Imamat), 4. Bemidebar (Bilangan), 5. Debarim( Ulangan ).

Nebiim:

6. Yehoshua (Yosua), 7. Sofetim (Hakim-Hakim), 8. Shemuel ( I dan II Samuel), 9. Malakim ( I dan II Raja-Raja), 10. Yesa’Yahu ( Yesaya), 11.  Yirmiyahu ( Yermia), 12. Yehesqiel ( Yeheskiel), 13. Shenim Ashar (Hosea, Yoel, Amos, Obad-Yahu, Yonah/Yunus, Miykah, Nahum, Khabaquq, Zefan-yahu, Khagay, Zekar-yahu, Malakkiy).

Ketubim :

14.Tehiliym (Mazmur), 15.Misley (Amsal), 16.Iyyob (Ayub), 17.Shiyr Ha-Shiyrim(Kidung-Agung), 18. Ruth, 19.Eykah (Ratapan), 20.Qohelet (Pengkotbah), 21.Esther, 22.Daniy-el, 23.Ezra-Nehem-yahu, 24.Debarey Hayamiym (I dan II Tawarikh).

 

Melihat daftar Kitab Suci Aama Yahudi (Tanakh) ini meskipun jumlah bukunya sama dengan Kitab Suci Perjanjian Lama yang digunakan di dalam Gereja -Gereja Protestan, namun  kita perhatikan urutannya sama sekali berbeda.  Bagaimana bisa demikian ? Karena secara jumlah Gereja-Gereja Protestan mengikuti keputusan Konsili Yahudi pada tahun 90 Masehi di Yamnia yang menggunakan Naskah Masorah/Mosaret, namun secara urutan menggunakan cara Kitab Suci Perjanjian Lama Kristen yang sudah lebih dahulu dikanonkan secara Tradisional: Septuaginta/Ebdomokonta.

 

Pada tahun 350an sebelum Masehi, Alexander Agumg (Iskandar Zulqarnayn) menyebarkan budaya dan bahasa Yunani dari Eropa sampai ke India (Gandara), sehingga bahasa Yunani menjadi bahasa Internasional .  Palestina jatuh ke tangan orang-orang Yunani, dan banyak orang Yahudi yang tersebar (Diaspora) di luar daerah Palestina.  Konsentrasi paling besar dari orang Yahudi penyebaran (diaspora) ini adalah di Alexandria, Mesir.  Di sama terjadi aktifitas keilmuan yang sangat canggih.  Orang-orang Yahudi di daerah diaspora ini tak mampu lagi berbahasa Aramia ataupun bahasa Ibrani.  Sehingga pada kurun abad itu, Raja Mesir-Yunani yang menggantikan Firaun Mesir: Ptolomeus Philopator. memerintahkan orang-orang Yahudi untuk menterjemahkan Kitab suci mereka (Tanakh) kedalam bahasa Yunani.  Tujuh puluh dua orang sarjana Yahudi yang mengerjakan pekerjaan terjemahan itu, dan hasilnya adalah terjemahan Septuaginta yang artinya “ Tujuh Puluh” yaitu pembulatan dari angka 72 dari jumlah sarjana yang mengerjakan pekerjaan terjemahan tersebut.  Terjemahan tersebut cepat menjadi populerdi kalangan orang-orang Yahudi diaspora.  Karena pada saat itu belum ada keputusan jumlah kanon, maka pada saat penterjemahan itu ada beberapa sastra Yahudi yang ikut diterjemahkan sebagai bagian integral dari septuaginta, sehingga jumlah Kitab dari septuaginta itu jauh lebih banyak dari Naskah Masoret/Masorah.  Para penterjemah Septuaginta itu mengubah susunan Kitab Suci menurut pokok isi yang lebih logis:

Nomos ( Torah):

Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan.

 

Sejarah:

Yosua, Hakim-Hakim, Rut, I&II Samuel, I&II Raja-Raja, I&II Tawarikh, Ezra, Nehemia, I&II Esdras Ester + Tambahan Ester ( Mordekai menyelamatkan kehidupan Raja, Doa Mordekai dan Ester), Yudith, Tobit, I,II,III dan IV Makabe, Doa Manaseh.

 

Puisi:

Ayub, Mazmur, Amsal, pengkotbah, Kidung Agung, Kebijaksanaan salomo, yesus Bin sirakh, Mazmur 151.

 

Nabi-Nabi:

Yesaya, Yeremia, Ratapan, Barukh, Surat Nabi Yeremia, Yehezkiel, Daniel+ Tambahan daniel ( Doa Tiga Pemuda Kudus, Kisah Susanna, Dewa Bel dan Naga), Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mika, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai Zakaria, Malaikhi.

 

Ketika Gereja Kristen Purba muncul, karena sejak awal lebih banyak orang non-Yahudi yang menjadi Kristen dari pada orang Yahudi sendiri, dan bahasa Yunanilah yang menjadi bahasa pengantar mereka, maka secara otomatis Kitab Suci Yahudi terjemahan Yunani yang dilakukan oleh orang Yahudi sendiri itulah, yaitu: Septuaginta, yang sejak diri digunakan oleh para Rasul.  Itulah sebabnya dalam kutipan-kutipan Perjanjian Lama dalam surat-surat Perjanjian Baru kita menjumpai ekspresi-ekspresi yang agak berbeda dari yang ada dalam Perjanjian Lama, sebab yang dikutip oleh rasul Paulus itu dari septuaginta, sedangkan Ktab Suci Perjanjian Lama yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia itu berasal dari Naskah Ibrani: Masorah, Kitab Suci Septuaginta itulah Kitab suci Gereja sejak hari pertama berdirinya Gereja.  Gereja tak pernah menggunakan Kitab Ibrani, dari Naskah Masorah.  Dan sampai sekarang satu-satunya Gereja yang menggunakan Kitab Septuaginta sebagai Kitab Suci resminya hanyalah Gereja Timur (Orthodox) saja.  Gereja Barat menterjemahkan Kitab Septuaginta itu ke dalam bahasa Latin pada abad keempat yang disebut sebagai “terjemahan Vulgata.  terjemahan itu dilakukan oleh “St. Jerome” , dan sampai waktu yang berabad-abad terjemahan Alkitab Latin Vulgata ini menjadi Kitab Suci resmi Gereja Roma Katolik.  Namun untuk alasan yang kurang jelas, tidak seluruh Septuaginta diterjemahkan ke dalam Vulgata.  Ada beberapa Kitab yang ditinggalkan, yaitu: I & II Esdras, Doa Manasseh, Mazmur 151, III & IV Makabe, sehingga di dalam Kitab Deutrokanonika Gereja Katolik Roma hanya ada : Tobit, Yudith, Tambahan Ester, Kebijaksanaan Salomo, Yesus Bin Sirakh, Surat Yeremia, Doa Tiga Pemuda Kudus, Tambahan Daniel, I & II Makabe saja.

 

Ketika Reformasi Protestan muncul ( tahun 1517) Luther menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerman, dengan menempatkan Kitab-Kitab yang oleh Gereja Katolik Roma disebut Deutrokanonika ( kanon kedua, karena kanon pertama adalah yang bahasa Ibrani saja) itu diantara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru seperti yang kita lihat dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia yang digunakan oleh Gereja Katolik Roma sekarang ini.  Pada waktu alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh”King James” (Raja James) dari Gereja Anglikan, Kitab Deutrokanonika itu dletakkan ditempat yang sama.  Luther menyebut Kitab-Kitab ini “berguna dan baik untuk dibaca”.  Dia belum menyebut sebagai “Apokripa”.  Para pengikut Luther yang kemudianlah yang akhirnya menghilangkan sama sekali buku-buku Deutrokanonika itu supaya cocok dengan jumlah buku menurut Naskah Masorah, meskipun urutan susunan buku masih menggunakan cara Septuaginta, dan mulai menyebutnya sebagai ”Apokripa” (Kitab yang tersembunyi, atau Kitab yang tak cukup baik untuk dibaca, atau Kitab yang tidak termasuk dalam kanon).  Sikap seperti ini muncul sebagai reaksi terhadap Gereja Katolik Roma yang menggunakan II Makabe 12:42 mengenai mendoakan orang mati supaya diampuni dosanya sebagai dasar bagi dogma “Api Penyucian” yang ditolaj oleh Dogma Protestan dan bahkan sebenarnya oleh alkitab dan ayat yang dikutip itu sendiri, tidak ada ajaran Api Penyucian dalam ayat itu dan dalam Alkitab manapun.    Ditambah pula bahwa Naskah Ibrani tak memiliki Deutrokanonika ini, maka mereka memutuskan lebih baik Kitab-Kitab itu dibuang saja karena berisi ajaran sesat “Api Penyucian”.   Padahal yang sesat bukan Kitabnya itu sendiri, namun ayat itu ditafsirkan sebagai “Dogma Api Penyucian” itulah yang salah.  Jadi mereka yang mengatakan bahwa Gereja Katolik Roma telah menambah-nambah jumlah alkitab, hanya dapat kita katakan sebagai orang yang dangkal pengetahuan, naif dan tak berpendidikan secara baik saja.  Sebab Deutrokanonika / Apokripa itu sudah ada sebelum ada Gereja Kristen Purba.

 

Gereja Purba di Timur tetap berpegang pada Kitab yang digunakan oleh Para Rasul ini sampai sekarang, tampa mengurangi seperti Deutrokanonika dalam Gereja Katolik Roma ataupun membuang sama sekali seperti sikap Gereja Protestan yang menuduh Kitab-Kitab yang oleh Luther sendiri disebut sebagai “berguna dan baik untuk bacaan” itu sebagai Apokripa.

 

Gereja Timur tahu bahwa Naskah Masorah dari Kitab Ibrani itu lebih pendek dan mengakui keabsahan dari Kanon Pendek itu, namun juga mengakui bahwa selama sejarahnya sejak jaman para Rasul Roh Kudus telah berkenan menggunakan Kitab Suci Septuaginta itu sebagai Kanon Gereja yang ditetapkan dalam Konsili Gereja yang adalah suara Roh Kudus.  Jadi Gereja Timur mengakui Kanon Pendek Ibrani dan juga mengakui Kanon Panjang Septuaginta, dan tidak menganggap Kitab-Kitab selebihnya itu sebagai “Apokripa” ataupun “Kanon Kedua”.  Sebab jika itu Kanon Kedua kita dapat mengambil dasar dogmatis dari Kitab-Kitan tersebut.  Bagi Gereja Timur Kitab-Kitab itu bukan “Deutrokanonika” ataupun “Apokripa” namun “Anaginoskomena” (yang layak dan patut dibaca).  Jadi Gereja Timur (Orthodox) bersikap lebih historis-realistis. Tidak menolaknya sebagai Apokripa, tidak pula mengangkatnya sejajar dengan kanon sebagai “Kanon Kedua”.  Sikap Gereja Timur itu dilandasi pada fakta bahwa ada atau tidak ada Kitab-Kitab Anaginoskomena itu, kebenaran aqidah Iman dan Dogma Kekristenan itu tak berubah sama sekali, sebab Aqidah Iman Kristen itu dari Perjanjian Baru bukan dari Perjanjian Lama, serta Gereja Orthodox melarang membuat dogma dari Kitab-Kitab itu karena itu bukan “Kanon Kedua”.

Isi Kitab-Kitab itu hanyalah sejarah, kata-kata hikmat dan nasehat-nasehat, yang tak mempengaruhi akidah sama sekali.  Malahan sebaliknya Kitab-Kitab itu akan menolong kita mengerti latar belakang dunia Yahudi di Palestina sebelum kedatangan Kristus, dengan demikian menolong pengertian kita akan latar belakang Perjanjian Baru itu sendiri.Sikap yang baik sebelum mengkritik adalah membacalah sendiri Kitab-Kitab tadi baru mengambil kesimpulan.  Jangan hanya karena itu digunakan oleh Gereja Katolik Roma lalu ditolak begitu saja.

Sedangkan mengenai jumlah buku-buku dalam Perjanjian Baru tidak ada masalah sama sekali , karena dari semula Gereja hanya memiliki 27 buku dari hasil saringan Konsilinya yang paling awal mengenai kanon Kitab Suci itu.  Ke 27 buku itu diterjemahkan di Gereja Barat ( Roma) ke dalam bahasa Latin dan akhirnya dari Gereja Barat Roma Katolik itulah Gerakan Reformasi Protestan mendapatkan Kitab Sucinya. Dan ke 27 buku-buku itu adalah:

 

Injil:

a.  Sinoptik ( Yang Berpandangan Sama): Matius, Markus, Lukas.

b.  Mistik (Menekankan yang Ilahi dan Panunggalan DenganNya): Yohanes.

 

Sejarah

1. Kisah lahir, tumbuh dan berkembangnya Gereja dari Yerusalem ke pusat peradaban dunia sesat itu : Roma

2.  Kisah pekerjaan agung Roh Kudus di dalam Gereja itu.

3.  Kisah para Tokoh dan Hirarkhi Gereja Purba.

 

Surat-Surat Kiriman

a.  Surat-surat Paulus.

  1. Kepada Gereja-Gereja : Roma, I&II Korintus, Galatia, Efesus, Kolose, Filipi, I&II Tesalonika.
  2. Kepada perorangan Pemimpin Gereja: I&II Timotius, Titus, Filimon.

 

b.  Surat Ibrani.

Belum pasti Penulisnya, tetapi secara Tradisi ditulis oleh Paulus.

 

Surat Umum / Surat Katolik / Layang Iber-Iber ( Jawa).

 

Tidak ditujukan kepada Gereja tertentu atau perorangan tertentu

  • Surat Yakobus episkop Yerusalem pertama
  • Surat I&II Petrus, Ketua kolega Para Rasul,Episkop Antiokia yang pertama, sebelum pindah dan mati di Roma.
  • Surat I&II&III Yohanes salah seorang Tokoh dan Rasul yang penting, Episkop di Efesus,
  • Surat Yudas saudara Episkop Yakubus.

 

Kitab Nubuat.

Kitab Wahyu, dari Episkop Yohanes, yang membicarakan kemenangan terakhir kebenaran Kristus, dan punahnya Iblis, maut dan kejahatan. Manunggalnya manusia dengan Allah dalam kemuliaan.

 

B. “Nama Alkitab.”

 

Kata “Alkitab” itu diambil dari bahasa Arab melalui agama Islam, karena orang Yahudi dan Nasrani dalam Islam disebut sebagai “Ahlul Kitab” (Para Pengikut Alkitab). Kata Alkitab itu sendiri maknanya “Sang Pustaka”  atau “Sang Buku” atau “Sang Tulisan.”  Itulah sebabnya Perjanjian Baru menyebut Perjanjian Lama sebagai “ Tulisan-Tulisan atau Segala Tulisan” (Grafi) (II Timotius 3:16). Dalam bahasa Arab kata “Tulisan” inilah Kitab.  Dan Perjanjian Baru juga menyebutkan bahwa “Korpus Paulusiah” itu sejajar dengan “Tas Loipas Grafas” atau “Grafi-Grafi yang lain”, yaitu Perjanjian Lama.  Dengan demikian Korpus paulusiah yang akhirnya menjadi bagian dari Perjanjian Baru itu sudah bersifat Grafi (Tulisan). Maka dengan terkumpulnya dokumen-dokumen Gereja  itu menjadi satu Jilid “Perjanjian Baru” apalagi dengan Grafi yang telah ada sebelumnya: Perjanjian Lama, jelaslah itu dapat dikatakan sebagai “Grafi”, sebagai “Kitab” yang bagi Gereja adalah “Al” (Sang) Kitab”, karena itulah satu-satunya Manifestasi sastrawi terpuncak dari Paradosis: Firman Allah.

Pada abad-abad pertama itu di daerah Palestina, Jika orang menuliskan sesuatu mereka menggunakan daun pandan air ( Papyrus) yang dikeringkan, sama seperti orang Jawa Kuno menggunakan “ron” ( daun) Tal (Palem, Siwalan).  Padahal daun Pandan Air (Papyrus) itu banyak banyak tumbuh di daerah “Byblos”( tunggal) atau “tabiblia” ( Jamak).  Dan karena kebanyakan Naskah Kuno Perjanjian Baru itu ditulis di atas Kertas Pandan Air semacam ini, maka naskah-naskah ( manuskrip-manuskrip) itu akhirnya disebut “ta biblia”, dan karena tulisan-tulisan ini diakui sebagai “Suci”( Sacra), maka disebutlah itu akhirnya “Sacra Bibla”( Kitab Kudus, Pustaka suci, Alkitab Muqqodas).  Dari sinilah semua bahasa Barat yang tadinya menggunakan bahasa Latin menyebut Alkitab itu sebagai “Bible” ( Inggris), Bibel ( Jerman),Bijbel( Belanda), dst.

 

Pada mulanya tidak banyak orang yang memiliki Alkitab, karena belum ada percetakan. Dan semua Alkitab itu harus ditulis tangan diatas papyrus atau Vlum ( kulit lembu yangdisamak).  Membayar Juru Tulis untuk menyalin Alkitab itu sangat mahal. Jadi orang Kristen Perdana tak mungkin membawa Alkitab dan memilikinya secara mudah.  Alkitab waktu itu belum memiliki pasal dan ayat, lagi pula tidak ada titik dan koma, semua tulisan berwujud “SEPERTI YANG SAYA TULISKAN INI”. Alkitab Ibrani mulai dibagi dalam ayat-ayat hanya baru terjadi kira-kira paling awal tahun 200 Masehi atau sebelumnya, namun pembagiannya masih bermacam-macam. Hanya baru abad ke sepuluh saja seorang sarjana besar yang beragama Yahudi Ben Asher mengedisi Kitab suci Ibrani dalam ayat-ayat seperti yang sekarang ini.  Pembagian pasal dari Kitab Ibrani itu mengikuti Kitab Suci Kristen terjemahan Latin pada abad ke 13 Masehi.  Stephen Langton ( wafat th.1228) Episkop Agung dari Canterbury( Inggris) yang mengerjakan pasal dan ayat seperti yang kita miliki sekarang.  Dan Kitab Suci terjemahan bahasa Inggris yang pertama kali memiliki pembagian pasal dan ayat seperti sekarang ini adalah Kitab Suci Jenewa pada tahun 1560. Dan sesudah adanya mesin cetak dan pembagian Pasal dan ayat ini barulah Kitab Suci mudah dimiliki orang.

 

C.  Kandungan Pokok Pengajaran Alkitab.

 

Pokok Pengajaran Alkitab adalah mengenai Allah dan Penyataan DiriNya kepada manusia, serta jalan keselamatan yang disediakan olehNya bagi manusia untuk menentukan dirinya yang sejati dalam panunggalan kekal dalam hidup Allah sendiri, karena kasih Allah yang sangat besar. 

Allah menjadikan manusia semata-mata karena kehendakNya sendiri didorong oleh rasa kasihNya akan ciptaan. Dunia dan segala isinya diciptakan Allah untuk manusia.  Manusia diciptakan untuk manunggal dengan Allah. Namun manusia gagal untuk mentaati panggilan eksistensi keterciptaannya itu, manusia memisah dari Allah bukan malah manunggal. Itulah isi Kejadian 1-3  .

Keterpisahan manusia ini keberadaan dosa.  Dan dosa makin bertambah berpuncak pada dosa kolektif di Menara Babel, yang menyebabkan lebih terpecahnya manusia, terserak-serak tanpa kesatuan kasih kembali. Itulah inti ajaran Kejadian 5-11. 

 

Manusia dikuasai oleh maut dan kejahatan.  Namun Allah tetap pada rencananya semula untuk memulihkan manusia dalam panunggalan dengan diriNya.  Untuk mencapai maksud itu Allah mempersiapkan kedatangan FirmanNya sendiri untuk menjelma menjadi Manusia dengan pemilihan “keluarga Abraham melalui Ishak dan Yakub” yang melalui jalur inilah “Keturnan” yang adalah “Firman menjelma“ itu akan datang.  Itulah berita dari Kejadian 12-50.

 

Agar terlaksananya Penjelmaan Firman Allah dalam dunia dan tersebar ke seluruh bangsa, maka allah mempersiapkan suatu bangsa pilihan yang menjadi milikNya sendiri sebagai keturunan Abraham, dipilih lepas dari penjajahan Firaun: Israel.  Sebagai Ummat Allah yang melaluinya nanti “Firman Allah” datang dan disebarkan ke seluruh dunia, maka bangsa pilihan ini disisihkan dan dikuduskan ( dipisahkan untuk Allah) melalui Hukum dan Peraturan Agamawi, Moral, Sosial, Etika, di dalam Torah.  Itulah berita yang kita dengar dari Keluaran-Ulangan.

 

Agar bangsa plihan ini dapat menjadi suatu bangsa maka mereka harus memiliki negara, maka Allah memberikan Tanah Perjanjian : Kanaan untuk dimiliki  itulah yang kita dengar berita dari Yosua - I Samuel 8.

Supaya pengaruh bangsa pilihan ini besar agar nantinya bangsa-bangsa lain dapat mendengar tentang Sang Firman yang menjelma melalui mereka, maka kepada mereka diberi Kerjaan. Itulah yang kita dengar dari I Samuel 9 - II Tawarikh.  Bangsa pilihan bukanlah bangsa yang lepas tanggung jawab, jika mereka memberontak terhadap keterpilihan mereka dengan tidak taat kepada Allah, maka merekapun dibuang meskipun demi tercapainya maksud Allah mereka dipulangkan kembali. Itulah yang kita dengar dari Ezra-Nehemia, Daniel, dan Ester.

 

Dalam masa krisis-krisis seperti ini maka Israel selalu dingatkan keterpilihan mereka itu ada misi, yaitu menjadikan Mesias datang ke dalam dunia, oleh karena itulah mereka perlu bertobat.  Janji kedatangan “Sang Firman Menjelma” demi pemulihan manusia demi memulihkan manusia dan alam semesta itu pasti segera datang melalui Mereka, itulah berita yang kita dengar melalui Mazmur dan Kitab Para Nabi.

 

Pergumulan menunggu datangnya Mesias itu penuh kesulitan, keluhan Israel itu kita dengan dalam Mazmur.  Namun dalam pergumulannya itu Israel belajar dan menemukan Hikmat, dan Hikmat inilah yang kita dengar dalam Amsal dan Pengkotbah.  Di tengah kesulitan mereka itu Israel tak lupa bahwa Allah etap menghendaki mereka supaya manunggal dalam kasih seperti yang dilambangkan dalam kasih pengantin laki-laki dan perepuan.  Itulah berita yang kita dengar dari Kidung Agung.

 

Dan betullah akhirnya Mesias itu datang: Mengajar, Melakukan Mujizat, menyatakan kehendak dan Diri Allah, Memberitakan Keselamatan, akhirnya mati disalibkan, dikuburkan, dan bangkit lagi pada hari ke tiga serta naik ke Sorga.  Inlah bertta yang kita dengar dari keempat Injil.

 

Melalui kedatangan Mesias inilah manusia sekarang dipulihkan kembali kepada tujuan penciptaan semula, melalui dkalahkannya kuasa maut.  Untuk menyatukan dalam hidup kemenangan  yaitu hidup kebangkitan agar kembali menyatu dalam hidup Ilahi, maka melalui Mesias ini, Allah telah mengirim RohNya yang Kudus kepada manusia.  Itulah berita yang kita dengan dari Kisah-Rasul 1-2.  Mereka yang menyatu dengan Mesias dalam Roh Kudus menyatu hidup mereka dalam Gereja yang hidup, bertumbuh dan bergerak serta berkembang, itulah yang kita dengar dari berita Kisah Rasul 3-28. 

 

Selama menunggu saat pemulihan kita yang terakhir orang Kristen akan mengalami banyak tantangan dan harus hidup sesuai dengan ajaran Injil, himbauan itulah yang kita dengan dalam semua Surat-Surat Kiriman (Epistel), dari Roma sampai dengan Yudas.

 

Dan akhirnya pemulihan itu akan datang, kekuatan jahat, dosa dan maut akan dipunahkan, manusia dan alam semesta akan dipulihkan dalam panunggalan yang mulia dengan Allah, itulah berita yang kita dengar dari Kitab Wahyu.

 

D. Sifat-Sifat Alkitab.

 

1.  Suci.

Kitab Suci memiliki berbagai macam sifat.  Namun berbicara masalah kesucian Alkitab,  pengertian Suci yang kita mengerti haruslah pengertian Alkitab itu sendiri.  Dalam Perjanjian Lama kata yang dterjemahkan dengan suci adalan “qodesh” dan dalam Perjanjian Baru “haghia/agia”. Kedua makna ini berarti “disisihkan/dipisahkan”.  Jika kita mengatakan bahwa Alkitab sebagai Kitab Suci, yang kita maksudkan bukanlah bahwa Alkitab itu tidak ada campur tangan dari manusia sama sekali,100% dari Allah saja, seperti pandangan Islam mengenai Al Qur’an, pandangan semacam ini adalah pandangan bidat Monophysitisme yang diarahkan kepada Alkitab.  Dan jika kita mengatakan bahwa seluruh Alkitab ditulis oleh manusia, bukan berarti pula bahwa Alkitab itu sekedar karangan manusia saja seperti banyak yang dajarkan kaum Modernis-Sekularis. Ini adalah pandangan bidat Nestorianisme yang diarahkan pada Alkitab. Sudah kita bahas bahwa Alkitab sebagai Manifestasi tercatat dari Paradosis/ Apokalypsis Ilahi adalah !00% dari Allah, namun cara pengungkappannya melalui gaya-bahasa eaksi para penulisnya itu 100% karangan dan kata-kata manusia.  Oleh karena itu menyelidiki Alkitab haruslah menyelidiki dengan menggunakan ilmu sastra, latar belakang sejarah, tata-bahasa dan lain-lain untuk menemukan isi berita darinya yang adalah Paradosis tadi.

Dari sifat yang dua ganda ini Alkitab memang terpisah dari Kitab apapun di dunia ini, sehingga Alkitab itu “Qodesh”/ “Haghia”.  Namun lebihdari sekedar sifatnya yangunik ini, bagi Gereja Alkitab adalah satu-satunya Kitab yang melaluinya Gereja bertemu dan mengenal Tuhannya dan Tuhan menyapa dan berbicara kepada Gereja. Untuk itu tidak ada Kitab yang mempunyai kedudukan seperti itu dalam kehidupan iman. Alkitab adalah lokasi dan Tabut Suci yang melaluinya kita mendengarkan suara Allah menyapa kita dalam konteks GerejaNya. Dengan demikian Alkitab memang terpisah dan disisihkan dari buku-buku yang lain karena hanya Alkitab itulah Firman Allah. Itulah makna kesucian Alkitab.

 

2.  Tanpa Salah ?

Gereja hanya memiliki Paradosis sebelum ada Alkitab. Dan bagi Gereja Paradosis itulah Firman Allah, dan berita yang disampaikan tentang Sang Sabda Menjelma itulah kebenaran mutlak yan tidak mungkin salah. Namun setelah paradosis itu diekspresikan dengan gaya-bahasa dan redaksi masing-masing penulisnya, masihkah itu tanpa salah?  Sejauh semua ekspresinya itu tetap bertumpu pada Berita Rasuliah mengenai tujuan Apokalypsis Ilahi bagi keselamatan manusia di dalam Kristus, jelaslah ekspresi itu mutlak benar.  Namun sejauh itu menyangkut hal-hal yang tidak essensial dan bukan menjadi beban utama pemberitaan Rasuliah bagi pemulihan manusia, misalnya Ilmu Kimia, Geografi, Geologi dan hal-hal semacam itu , Alkitab bukanlah tempatnya kita belajar. Bukan itu beban muatan berita Alkitab, Alkitab berbicara jauh  lebih dalam mengenai masalah eksistensi  terdalam manusia dan hubungannya dengan Allah. Para penulis Alkitab boleh saja menggunakan ekspresi budaya dan ilmu pengetahuan yang ada pada jamannya, meskipun ilmu pengetahuan waktu itu  tidak memadai, tanpa menghilangkan keyakinan kita tentang Alkitab, karena bagi kita Alkitab itu bukan “ Sola”, Alkitab itu ada lingkupnya yang meneguhkan pernyataan Kerygma yaitu bentuk manifestasi yang lain dari paradosis itu.  Jika orang meragukan kebenaran berita Alkitab, Paradosis yang lebih tua dari Alkitab itu akan meneguhkan dan menegaskan. Kita tidak usah takut pada pendapat : “ Jika Alkitab salah dalam hal yang nampak yaitu ilmu pengetahuan, bagaimana bisa benar mengenai hal yang tidak nampak ?”  Karena bagi kita Berita Utama dan beban yang hakiki dari Alkitab adalah apa yang sudah diberitakan Paradosis, yaitu mengenai “Peristiwa Yesus” itu, dan itu mengatasi pengetahuan manusia.  Namun ekspresi kata dan sastra guna menyampaikan kebenaran yang “Supra Alamiah” (Adi Kodrati) ini menggunakan bahasa dan redaksi serta pengetahuan zamannya yang mungkin sangat terbatas.  Allah menggunakan bahasa manusia untuk mengekspresikan kebenaranNya yang sudah disaksikan dalam Paradosis itu.  Tidak menyadari akan hal-hal ini berarti melupakan bahwa Alkitab itu 100% kata-kata manusia.  Mengatakan bahwa karena Allah Maha Tahu jadi segala sesuatu dalam Alkitab itu pasti benar, termasuk hal-hal yang bersifat ilmu pengetahuan, itu berarti menganggap bahwa Alkitab itu hanya 100% Ilahi saja.  Bukankah ini monophysitisme ?  Ini adalah penekanan yang berat sebelah, dan akhirnya menimbulkan dikotomi yang tidak sehat antara iman dan ilmu pengetahuan. Tugas Alkitab bukan untuk mengajar kita rincian ilmu kedokteran, rincian ilmu ekonomi, rincian ilmu astronomi, dan lain-lain.  Semua itu disinggung dalam Alkitab karena Alkitab ditulis dari pengalaman hidup. Namun bukan itu tujuan kita membaca Alkitab. Unsur-unsur keilmuan yangdisinggung  Alkitab harus kita perkembangkan  di dalam bidangnya sendiri. Alkitab berbicara mengenai ilmu yang lebih dalam yaitu Ilmu Manunggal dengan Allah, Ilmu mengenal Allah dan mengenal Diri dan jalan menuju kepada Allah.  Itulah ilmu yang diajarkan Alkitab.

 

3.  Kontradiksi Dalam Alkitab karena Alkitab telah diubah-ubah.

Alkitab sering dituduh mengandung banyak kontradiksi oleh saudara-saudara Muslimin.  Itulah dogma Islam akan Alkitab. bukan karena penyelidikan.  Dari pembahasan kita selama ini telah kita buktikan bahwa sejak semula Kitab Suci Kristen adalah seperti yang kita punya sekarang ini.  Lagi pula pewahyuan dalam konsep Kristen itu bukanlah Sabda yang menjadi Kitab, seperti faham Islam mengenai Al Qur’an.  Wahyu adalah Apokalypsis Ilahi terutama pada peristiwa “Firman itu menjadi Manusia”.  Tak seorangpun pernah mengubah-ubah Pribadi Yesus Kristus. Maka jelas wahyu itu tidak bisa diubah, sebab Wahyu itu Pribadi bukan Kitab.  Kitab Suci Kristenadalah manifestasi dari Pemberitaan tentang Wahyu itu.  Dan ditulis menurut gaya-bahasa dan redaksi masing-masing penulisnya.  Apa yang disebut kontradiksi itu hanyalah perbedaan ungkapan dari tradisi atau paradosis yang sama yang dari padana dokumen-dokumen tertulis itu bersumber.  Perbedaan-perbedaan ekspresi tidak mengubah makna dari berita.  Jika dikatakan bahwa waktu Yesus menyembuhkan orang dirasuk setan itu hanya “seorang” ( Markus 5:2) dan “dua orang” menurut Matius 8:28, itu bukan kontradiksi sejauh jika tujuan penulisan itu yang kita lihat.  Matius dan Markus menuliskan bukan untuk menceritakan jumlah orang, namun untuk menceritakan bahwa Yesus menang atas kuasa Iblis.   Tak ada kontradiksi dalam aqidah dan isi berita.  Lagi pula Tradisi Lisan itu tidak selalu bersifat kaku.  Markus mungkin mendengar dari sumber Tradisi Lisan bahwa memang nara sumbernya tahunya hanya satu, namun Matius sebagai murid yang melihat langsung lebih tahu bahwa ada dua orang.  Dan hal-hal semacam itu tidak banyak sekali dalam Alkitab, yang kita cari adalah “kerygma” bukan tetek-bengek yang bukan menjadi tujuan pemberitaan.  Sebab aqidah iman itu tetap satu, entah diekspresikan oleh penulis Kitab Suci dengan macam-macam gaya dan ekspresi apapun.  Karena bagi iman Kristen Rasuliah teks itu bukan satu-satunya dan bukan tujuan akhir, namun mengerti dan mengalami “Peristiwa dan Pribadi Kristus” yang selalu disaksikan Paradosis itulah  peneguhan kebenaran Kitab Suci.

 

 

Top