Renungan Harian

Konsili Ekumenis Yang Keempat: Monofisitisme (Tahun 451 Masehi)

Author : Rm Daniel Byantoro | Thu, 10 May 2018 - 00:13 | visits : 3293

Gereja Rasuliah Orthodox Purba ini tak henti-hentinya mengalami serangan, karena pintu gerbang alam maut selalu berusaha untuk “menguasainya” (Matius 16:18) meskipun tak mampu. Sekitar dua puluh tahun setelah diadakannya Konsili Ketiga melawan Nestorianisme dimana dirumuskan bahwa Kristus itu adalah “Mia physis ton Theologon Sesarkomeni”, seorang rahib etnis Yunani yang bernama Eutykhes menyebarkan tafsirannya yang salah mengenai pemahaman Kristologis itu, dan yang sangat mengganggu Gereja lagi.  Menurut Eutykhes jika Kristus itu hanya memiliki “Satu Kodrat” berarti Kodrat ManusiaNya  hilang ditelan oleh Kodrat IlahiNya. Sebab Kodrat Ilahi ini jauh lebih berkuasa dari Kodrat ManusiaNya. Dengan demikian “Satu-satunya” (“Monos”) “Kodrat” (“Physis” ) yang dimiliki Kristus hanyalah kodrat ilahi saja, itulah sebabnya maka  ajaran ini disebut sebagai “Eutykhianisme” atau “Monophysitisme”.  Dengan  munculnya  bidat  "Monofisitisme"  yang  diajarkan oleh Eutykhes dari  Konstantinopel ini  maka  diadakanlah  Konsili Ekumenis  yang  Keempat pada tahun 451 Masehi

 Untuk memahami latar-belakang sejarah dari peristiwa ini, mari kita bahas secara singkat mengenai hal itu. Eutykhes dari Konstantinopel itu mengajarkan pemahamannya itu pada tahun 440 Masehi. Karena itu Flavianus, Patriarkh Konstantinopel, mengadakan suatu Sidang Synode pada tahun 448 mengutuk ajaran Eutykhes itu, tetapi Eutykhes  tak mau menerima keputusan itu, dan naik banding kepada Disokoros, Patriarkh Alexandria. Pertikaian ini menjadi makin sengit ketika Dioskorus, Patriarkh Alexandria, pengganti dan keponakan Patriarkh Kyrillos, yang masih menyimpan rasa ganjalan terhadap Konstantinopel, mendukung ajaran Eutykhes.  .  Kaisar Byzantium yang berkuasa saat itu, Theodosius II, yang juga mendukung posisi Eutykhes, memanggil Sidang Synode seluruh dunia Kristen lagi yang diadakan di Efesus pada bulan Agustus tahun 449. Dia menunjuk Patriarkh Dioskorus untuk memimpin jalannya Sidang dan mengangkat Eutykhes kembali pada jabatannya dan untuk menutup mulut mereka yang berlawanan pendapat. Leo I, Patriarkh Gereja Barat Roma, mengirim utusan ke Sidang Synode itu dengan “Tomos”, suatu eksposisi  mengenai bagaimana dua kodrat, Ilahi dan Insani,  itu bersatu/manunggal dalam Kristus.Dioskoros menghalangi pembacaan dari Surat Leo itu serta menolak posisi theologisnya.Ajaran Eutykhes dinyatakan sebagai “orthodox” oleh Synode yang dipimpin Dioskoros itu.. Para Episkop yang menolak keputusan Konsili itu dipecat.  
       Suatu perisitiwa yang tak terduga terjadi, sehingga  mengubah situasi yang ada secara dramatis. Pada tanggal 28 Juli 450, sementara Kaisar Theodoros bepergian naik kuda, si kuda terpelecok, dan Sang Kaisar itu jatuh patah lehernya serta meninggal dunia. Dan saudari perempuannya, putri Pulkheria menjadi Maharatu (Kaisarina) dengan suaminya, Markianus, sebagai rekan-Kaisar. Mereka menentang ajaran Eutykhes dan sangat bersemangat untuk meluruskan kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan oleh Dioskoros.  Kaisar Markianus memanggil suatu Sidang Synode Gereja yang bertemu di kota Khalsedonia, di luar kota   Konstantinopel.   Lebih dari 500 orang Episkop/Uskup yang menghadiri Sidang Synode ini – pertemuan  Konsili Gerja  yang paling besar sampai pada saat itu. Semua utusan yang hadir dalam Konsili ini berasal dari Gereja Timur, kecuali beberapa wakil dari Roma dan dua dari Afrika. Pembahasan berlangsung  dari tanggal 8 Oktober sampai dengan 1 November 451. Paus Leo dari Roma mengirimkan wakil-wakilnya lagi dengan membawa “Tomos”nya, yang dibaca dan diterima serta disahkan dalam Konsili itu. Dan Konsili Khalsedon membatalkan keputusan yang dipimpin Dioskoros, yang disebut “Konsili Para Perampok” (“Latrocinium”), dan mengutuk ajaran Eutykhes. Konsili  Khalsedon ini mengutuk siapa saja yang mengajarkan bahwa Kristus hanya memiliki “satu kodrat ilahi” saja, serta mereka yang membayangkan suatu percampuran atau kekacauan diantara dua  kodrat Kristus itu.  Markianus mendorong Konsili itu untuk menulis suatu pernyataan Iman bagi memberikan kesatuan dan pengertian bagi Gereja. Sebagai tanggapan maka Konsili itu menghasilkan “Definisi Khalsedonia”.  Definisi itu meneguhkan bahwa Kristus itu “sempurna dalam keilahianNya dan sempurna dalam kemanusiaanNya, sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia” . Dia dinyatakan sebagai “satu dzat-hakekat (homoousios) dengan Sang Bapa dalam hal keilahian-Nya, dan pada saat yang sama satu dzat-hakekat dengan kita dalam hal kemanusiaanNya”. Yesus Kristus ini harus “diakui dalam dua kodrat, tanpa kacau-balau, tanpa perubahan, tanpa terbag-bagi, tanpa terpisah-pisah.” “ Perbedaan kodrat”itu “sama sekali tidak dibatalkan oleh panunggalan/kesatuan”itu. “ Sifat-sifat khas dari dari masing-masing kodrat” itu harus dianggap sebagai “dipelihara serta menyatu dalam satu pribadi dan satu dzat-hakekat”. Kedua kodrat itu “tak boleh dipisah-pisahkan menjadi dua pribadi” .  Ringkasnya, Definisi  itu mengakui Yesus Kristus adalah “Satu Pribadi, yang sekaligus adalah Allah dan Manusia”. Dengan definisi ini maka itu telah menolong Gereja dalam “ menarik garis batas,  yang jika melampaui ini terletak kesesatan” dalam hal mengatakan tentang  kesatuan antara kodrat manusia dan kodrat ilahi di dalam Kristus. Definisi ini mengakui  berita Injil bahwa Yesus Kristus telah mengenakan kemanusiaan kita agar menyelamatkan kita manusia ini, karena seperti yang dikatakan  oleh Janasuci Gregorius dari Nazianzus (329-389 Masehi) bahwa “ Apa yang Kristus belum ambil (dari kemanusiaan kita) itu belum disembuhkn (diselamatkan)”.. Jadi pembahasan tentang Pribadi Kristus dalam Konsili Khalsedonia ini, sama seperti pembahasan tentang Pribadi Kristus dalam menentang Nestorianisme itu, keselamatan manusialah yang menjadi keperduliannya dan fokusnya. Jika seperti yang diajarkan oleh Eutykhes bahwa kemanusiaan  Kristus itu telah ditelan oleh keilahianNya maka keselamatan manusia yang dipertaruhkan. Karena jika Kristus tak memiliki kodrat manusia, padahal kita diajar bahwa dalam keselamatan itu kita akan manunggal dengan Kristus. Jika betul demikian maka kita akan langsung manunggal dalam hakekat keilahian Kristus, berarti kita melebur dalam keAllahan itu, hilang sifat keterciptaan kita, maka juga akan menjadi Allah. Inilah ajaran pantheisme yang tidak sesuai dengan Injil. Juga karena keselamatan itu terjadi melalui Firman menjadi manusia (Yohanes 1:14), mati disalibkan dengan tubuhNya, dikuburkan dengan tubuhNya, dan dibangkitkan tubuhitu dalam kemuliaan, dan juga tubuh yang sama yang telah mulia itu dibawa ke sorga dan masih ada sampai sekarang (Filipi 3:20-21), berarti kalau kemanusiaan Kristus itu hilang, maka hilang pula keselamatan itu. Itulah sebabnya mengapa Gereja tetap mempertahankan integritas Keilahian an Kemanusiaan Kristus itu, agar jangan sampai karya keselamatan yang telah dilaksanakan oleh Kristus dalam bahaya dihilangkan,
      Jadi  Konsili di kota Khalsedon  itu menegaskan bahwa Yesus Kristus memiliki "Satu Hypostasis/Pribadi"  dalam  "Dua Kodrat/physis, tanpa kacau-balau, tanpa perubahan, tanpa terbag-bagi, tanpa terpisah-pisah ".  Disamping  itu  diputuskan  dalam  Keputusan  Kanon  XXVIII dari Konsili ini bahwa Patriarkh Konstantinopel mempunyai kedudukan Sejajar  kedua  sesudah  Paus di Roma. Dampak dari Konsili ke IV ini  adalah  terjadinya  perpecahan  cabang  Gereja Orthodox  di Alexandria,  (Koptik) dan sebagian dari Gereja Syria-Antiokhia, menjadi Syria-Yakobit, dari  keempat  Patriarkh  lainnya.  Karena  mereka  menolak hasil  rumusan  Khalsedon.  Cabang  Gereja Syria-Yakobit  ini adalah  Gereja Thomas di India. Juga penolakan rumusan Khalsedon ini menimbulkan mandirinya  Gereja  Koptik  di Mesir  dengan  cabangnya Gereja Ethiopia, serta  mandirinya Gereja Armenia.  Gereja Armenia ini pada jaman Belanda sampai  tahun  1960an berada di Indonesia.  Dahulunya  Gerejanya  di pulau Jawa  ada  dua,  yaitu  di Surabaya  di Jalan Pacar 6,  yang  sekarang telah dibeli  oleh  umat  Kristen  Protestan  etnis Tionghoa,  dan di Jalan Thamrin yang  sekarang  menjadi  kompleks  Bank Negara Indonesia.

Gereja-Gereja Orthodox Oriental

Gereja-Gereja yang memisah : Koptik, Ethiopia dan Eritria, Syria-Yakobit, Thomas –India, dan Armenia ini,  dulu disebut sebagai Gereja-Gereja yang beraliran "Monofisit" ("faham satu-satuNya  kodrat")  yaitu  faham  yang mengajarkan  bahwa "satu-satunya kodrat"  dari Kristus adalah yang ilahi saja)  yang dipromosikan  oleh  Eutykhes, dan yang didukung Dioskoros Patriarkh Koptik dari Alexandria dalam Konsili tahun 449 yang dipimpinnya, yang disebut “Konsili Para Perampok” (“Latrocinium”) itu.  Namun sejak tahun 1964 sudah dimulai suatu dialog-dialog antara Gereja Orthodox Timur dan Gereja-Gereja yang memisah ini, dan sekarang disebut sebagai Gereja-Gereja Orthodox Oriental.  Dalam  dialog-dialog ini terdapat dua sikap yang berbeda dari kedua belah, yaitu sikap Garis keras dan sikap Garis lunak atau moderat.
. Sikap garis keras dari sebagaian dari umat Kristen Orthodox Timur yang mengatakan bahwa pada esensinya Gereja Orthodox Oriental itu masih bersifat Monosfisit, yang ditolak oleh pihak Gereja Ortodox Oriental dengan mengatakan bahwa faham mereka adalah “Miafisit” bukan “Monofisit”. Miafisit artinya “satu kodrat” yang berasal dari kodrat. Sementara “monofisit” artinya “satu-satunya kodrat”, yaitu kodrat ilahi saja. Sebab kodrat manusia itu telah ditelan oleh kodrat ilahi. Jadi pihak Oriental mengatakan bahwa Kristus itu adalah “Satu Kodrat yang berasal dari Dua Kodrat”. Sementara keyakinan Gereja Orthodox Timur, yang juga diyakini oleh Gereja Roma Katolik, dan Gereja-Gereja Protestan klasik, sesuai dengan Konsili Khalsedon mengatakan Kristus itu “Satu Pribadi dalam Dua Kodrat”. Sementara kelompok garis keras dari pihak Gereja Oriental ini merasa keyakinan Gereja Orthodox Timur sebagaimana yang dirumuskan Konsili Khalsedonia itu masih berbau Nestorianisme, karena Kristus diakui sebagai memiliki “Dua Kodrat”. Keberatan pihak garis keras dari Gereja Oriental ini, ditegaskan oleh pihak garis keras dari Gereja Orthodox Timur itu bahwa Kristologi Khalsedonia itu tak mengatakan bahwa Kristus memiliki “Dua Pribadi sebagaimana yang diyakini oleh theologia Nestorianisme, namun hanya “Satu Pribadi” (”Mia Hypostasis”), dan juga tidak memiliki “Dua Kodrat” yang terpisah-pisah, namun Dua Kodrat yang menyatu dalam Satu Pribadi tadi, secara “tanpa kacau-balau, tanpa perubahan, tanpa terbag-bagi, tanpa terpisah-pisah”, jadi sama dengan ajaran Janasuci Kyrillos mengenai “Mia Physis Ton Theon Logon Sesarkomeni” diatas.  Sementara  itu pihak garis keras dari Gereja Orthodox Timur masih mempertanyakan keyakinan “Miafisitisme” dari Gereja Oriental yang mengatakan “Kristus itu Satu Kodrat yang berasal dari Dua Kodrat” tadi. Jika Kristus itu memiliki “Satu Kodrat (Mia Physis)”, apakah Dia tidak memiliki “Pribadi” (“Hypostasis”), dimana PribadiNya ? Lalu Kristus itu apa, jika Ia tak memiliki Pribadi?. Juga jika “Satu Kodrat” itu difahami sebagai “berasal dari Dua Kodrat”, yaitu kodrat Manusia dan Kodrat Ilahi, bukankah ini kodrat jadian atau kodrat campuran yang terjadi dan hanya ada sesudah Inkarnasi? Sebelum Inkarnasi berarti “Satu Kodrat” itu belum ada. Jikalau Kristus tidak memiliki “Hypostasis” , dan sebelum Inkarnasipun “Satu Kodrat” itupun belum ada, lalu apakah Kristus ini? demikian pertanyaan kelompok garis keras dari pihak Gereja Orthodox Timur itu. Selanjutnya pihak garis keras ini mempertanyakan, bukankah Kolose 2:9 mengatakan :” Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan”. Dalam ayat ini disebutkan mengenai Kristus sebagai “Dia” yang berarti “Satu Orang”, jadi hanya “Satu Pribadi”, Maka di dalam “Satu Pribadi” Kristus ini berdiam “secara jasmaniah” yang berarti “Kodrat Manusia”,  “Seluruh Kepenuhan ke-Allahan”yang berate “Kodrat Ilahi”. Jadi dalam Kristus ada “Satu Pribadi” yang memiliki “Dua Kodrat”: Manusia dan Ilahi.  Jika ayat ini dengan jelas mengatakan Kristus itu memiliki “Satu Pribadi”, bagaimana mungkin Pribadi ini bisa disamakan dengan Kodrat? Dan dalam Satu Pribadi inilah “berdiam”nya Dua Kodrat tadi. Jadi Dua Kodrat itu bukan yang menjadi asal dari Satu Kodrat itu, tetapi Dua Kodrat tadi berdiam dalam Satu Pribadi. Demikian sikap kelompok garis keras dari Gereja Orthodox Timur.
   Namun disamping kelompok garis keras ini, terdapat juga kelompok Garis lunak, atau kelompok moderat, dari kedua belah pihak.   Kelompok moderat dari pihak Gereja Orthodox Timur, Khalsedonian, maupun dari pihak Gereja Oriental non-Khalsedon merasa bahwa dalam dialog-dialog itu telah diketemukan bahwa ajaran Non-Khalsedonian dari Gereja-Gereja Oriental itu  tidak persis sama dengan bidat Monofisit dari Eutykhianisme.. Dan pihak Oriental non-Khalsedon juga menemukan bahwa ajaran “Dua-Kodrat” dari pihak Gereja Orthodox Timur itupun tak sama dengan ajaran Nestorianisme, karena Dua Kodrat itu menyatu dalam Satu Pribadi.. Sehingga para theologiawan dari Gereja Orthodox Timur dan Gereja Orthodox Oriental menganggap bahwa secara substansi Kristologi dari dua keluarga Gereja ini tidak berbeda meskipun menggunakan  ungkapan dan terminologi yang berbeda. Gereja Orthodox Oriental  ternyata  ditemukan juga telah menolak  ajaran  Eutykhes ini.  Namun sebagian lagi masih melihat bahwa Kristologi Gereja Oriental, belum betul-betul sama dengan theologia Orthodox Timur, dan sebagian dari pihak Gereja Oriental masih curiga dengan kata “Dua Kodrat” sebagai bersifat Nestorianistis..  Dan situasi adanya dua sikap dari kedua belah pihak inilah yang masih ada sampai sekarang. 

Meskipun sudah ada dialog-dialog antara kedua keluarga Gereja Orthodox Timur dan Gereja Orthodox Oriental, tetapi masih ada kendala-kendala yang membuat kesatuan secara sakramental dan adminstratif belum bisa dilakukan. Diantara kendala-kendala tadi adalah sebagai berikut: 1) Gereja Othodox Timur memegang teguh bahwa ajaran dari Ke 7 Konsili Ekumenis itu merupakan suatu kebenaran yang utuh dan harus diterima seutuhnya, sementara Gereja Orthodox Oriental hanya mau menerima ajaran dari Konsili Ekumenis Pertama sampai Ketiga saja, 2) Bagi Gereja Orthodox Timur, Dioskoros yang di kutuk oleh Konsili Khalsedonia karena dukunganya terhadap Eutykhes, diakui sebagai Orang Kudus dalam Gereja Koptik. Sementara Paus Leo dari Roma yang merumuskan Tomosnya di Konsili Khalsedonia yang diakui sebagai orang suci oleh Gereja Orthodox Timur dinyatakan sebagai “bidat” oleh Gereja Oriental, 3) Dan jika terjadi penyatuan kembali siapa yang akan menjadi Patriarkh di Alexndria, karena disana ada dua Patriarkh, yang Khalsedon dan yang Non Khalsedon (Koptik), demikian juga di Syria. Itulah beberapa kendala yang menyebabkan masih sulitnya usaha penyatuan dua keluarga Gereja ini.

5)    Konsili Ekumenis Kelima: Tomos dari Kaisar Zeno –Henotikon  (tahun 553)
Kemudian pada tahun 553  Konsili Ekumenis Kelima diadakan di kota Konstantinopel, yng bertujuan untuk menyatukan kembali mereka yang menolak rumusan Kristologis dari Konsili Khalsedon itu, kembali kepada Gereja Orthodox alur utama. Pihak yang dianggap sebagai Monofisit itu berkeberatan dengan istilah “Dua Kodrat” (“Dyo Physeoos”) yang digunakan oleh Pengakuan Kristologi Khalsedon itu, karena kedengarannya bagi mereka berbau ajaran Nestorianisme yang ditolak dalam Konsili Ekumenis Ketiga di Efesus thaun 431. Tetapi pihak Gereja Orthodox alur utama menegaskan bahwa bukan demikian halnya. Karena Dua Kodrat dalam Kristus itu dikatakan oleh Pengakuan Kristologi Khalsedon, demikian “Dua Kodrat, secara tak terkacau-balaukan, secara  tak berubah-ubah, secara tak terbagi-bagi, secara tak terpisah-pisahkan, perbedaan kedua kodrat itu sama sekali tak tersingkirkan oleh panunggalan itu, tetapi malahan sifat masing-masing kodrat itu dipelihara,  dan manunggal bersama dalam satu Pribadi dan satu Dzat-Hakekat, tidak terpisah atau terbagi menjadi dua pribadi”. Jadi tak ada Nestorianisme dalam Pengakuan Kristologi Khalsedon tersebut. Untuk menegaskan bahwa Kristologi Khasedon itu tidak cenderung pada Nestorianisme, maka dalam Konsili Ekumenis Kelima itu beberapa tokoh yang dianggap memiliki faham yang berhaluan Nestorianisme itu di “anathema”, diantaranya: Ibbas/Hibba dari Edessa, dan Theodoros dari Mopsuestia. Dan juga suatu karya tulis yang bernama “Tiga Pasal” dari Theodoret  ikut di “anathema”. Kaisar Byzantium yang ada waktu itu :Kaisar Zeno, menulis suatu “Tomos”  (“Rumusan”) persatuan, yang disebut “Henotikon” bagi tujuan penyatuan kembali antara pihak yang dianggap Monofisit itu dengan Gereja Orthodox alur utama. Namun sayang usaha itu tidak berhasil. Pihak yang dianggap sebagai Monofisit itu tetap memisahkan diri, yang sekarang dikenal sebagai Gereja-Gereja Oriental itu, yaitu: Gereja Koptik, Gereja Ethiopia, Gereja Eritrea,  Gereja Syriak (Yakobit), Gereja Thomas India, Gereja Armenia..

See also

jQuery Slider

Group

Top